Banner
Perpustakaan SMK N 1 BalikpapRadio Suara EdukasiDinas P & K Prov KaltimDITPSMK Kemdikbud RIBursa KerjaSimulasi Digital
Login Member
Username :
Password :
Jajak Pendapat
Apa saja yang telah dilakukan pada web sekolah SMKN 1 balikpapan
Sekedar Tahu dan Bangga
Memanfaatkan Fasilitas
Melakukan Interaksi
Melakukan KBM
Unduh dan Upload File
Lihat
Statistik

Total Hits : 1786638
Pengunjung : 324789
Hari ini : 253
Hits hari ini : 581
Member : 835
IP : 54.161.77.30
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

humassmknsatubpn@yahoo.co.id    
Agenda
20 October 2018
M
S
S
R
K
J
S
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Twitter

Gaya Bicara Nabi Menurut Penuturan Sahabat

Tanggal : 04-06-2018 08:33, dibaca 153 kali.

Bagaimana sifat dan struktur bicara Nabi Muhammad SAW ketika berbicara, berpidato dan membaca Alquran, semuanya diketahui melalui penuturan para sahabat.

Dikutip dari Buku Pribadi Muhammad karya Nizar Abazhah, Aisyah RA (istri Rasulullah SAW) pernah berkata: “Nabi tidak memperindah kata-kata sebagaimana kalian ini. Beliau berbicara secara mendetail dan jedanya terukur sehingga dapat dihafal setiap orang yang mendengar”.

Aisyah berkata lagi, “Saat Rasulullah berbicara, kata-kata bisa dihitung andai seseorang mau menghitungnya.”

Dalam sebuah hadis sahih Al-Bukhari diterangkan bahwa apabila Nabi SAW berbicara tentang sesuatu, beliau mengulanginya tiga kali dampai dimengeri. Jika mendatangi khalayak, Beliau mengucap salam tiga kali.

Mengenai bacaan Alquran Nabi, aksen dan karakter bicaranya, Jabir Ibn Abdillah RA mengatakan, “Ucapan Rasulullah pelan dan jelas”. Kemudian Anas Ibn Malik RA pernah ditanya, ”Bagaimana Rasulullah membaca Alquran?” Ia menjawab: “Beliau memanjangkan sauaranya. Jika membaca Bismillahirrahmanirrahim, Beliau memanjangkan bacaan bismillah, memanjangkan bacaan ar-rahman dan memanjangkan bacaan ar-rahim.

Adapun gaya bicara Nabi ketika berkhutbah disebutkan Jabir ibn Abdillah RA berkata, “Jika berpidato di depan khalayak, kedua matanya memerah, nada syaranya meninggi, serius, seakan-akan sedang menyeru pasukan perang.”

Nabi SAW juga memiliki cita rasa sastra yang tinggi. Kepekaannya menangka keindahana puisi tak terandingi. Beliau mendengarkannya di masjid dan memberi ijazah (izin) kepada sejumlah penyair. 

Setelah menyimak Hassan ibn Tsabit membacakan puisinya, Beliau bersabda: “Ruh Kudus (Jibril) akan selalu meneguhkanmu selama yang kau hembuskan adalah Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah juga menyimak Ka’b ibn Zuhair mengalunkan kasidahnya. Nabi memberi ijzah kepada Ka’ab. Di kesempatan lain, Nabi juga menyambut Al-Khansa’ dan memintanya membacakan kasidah. Juga mendebat Al-Nabighah Al-Ju’di dalam bait pembuka kasidah. Al-Nabighah hidup sekitar 130 tahun dengan gigi utuh berkat doa Nabi yang berbunyi “Semoga Allah mengutuhkan gigimu,”. 

Meskipun demikian, Nabi SAW tak pernah bersyair sebaris pun karena Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengajarkan syair (puisi) kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. (QS Ya Siin: 69). Dengan begitu ucapan beliau terjaga dari peniruan dan tak bercampur aduk dengan puisi.



Pengirim : dms_rz


Artikel Lainnya :

   Kembali ke Atas

Kembali ke atas